Postingan

Menelusuri Emansipasi dalam Cerpen Sulastri dan Empat Lelaki karya M. Shoim Anwar

       Ketika menikmati sebuah karya sastra, pasti terdapat interpretasi yang muncul dari dalam benak pembacanya. Oleh sebab itu muncul beberapa kritikan mengenai karya sastra. Begitu pula ketika membaca dan mencermati cerpen Sulastri dan Empat Lelaki karya M. Shoim Anwar. Setelah membaca cerpen tersebut, sebagai penikmat sastra, saya merasa bahwa terdapat ambiguitas cerita dengan alur yang penuh liku-liku. Ketika mencermati dari judulnya saja, kita pun secara tidak langsung dipaksa untuk berpikir ada hubungan apa Sulastri dengan empat lelaki? Apakah Sulastri mengalami kekerasan yang sangat mendalam dengan tingkah laku empat lelaki tersebut? Tentu saja sebagai pembaca, pada awalnya kita akan berpikiran yang aneh-aneh. Oleh sebab itu, muncul keingintahuan yang besar untuk segera membaca cerpen Sulastri dan Empat Lelaki karya M. Shoim Anwar ini. Sebenarnya cerpen Sulastri dan Empat Lelaki karya M. Shoim Anwar mengisahkan tentang kehidupan seorang istri yang menung...

Paradoks Sosial dalam Cerpen Di Jalan Jabal Al-Kaabah karya M. Shoim Anwar

  Ketika membaca cerpen Di Jalan Jabal Al-Kaabah karya M. Shoim Anwar kita akan disuguhkan dengan gambaran bentuk suasana di tanah suci. Ya, penulis mengajak kita seolah-olah berada di Arab Saudi. Ternyata kehidupan di sana tidak kalah persis dengan kehidupan kita di Indonesia. Sama halnya ketika kita mengunjungi makam 9 sunan atau makam tokoh ulama yang terkenal, di sekitar area pemakaman kita pasti mendapati pengemis yang meminta-minta dengan berbagai cara agar pengunjung merasa iba kepadanya. Ada yang berpakaian lusuh hingga berpura-pura cacat. Segala cara mereka tempuh guna mengharap belas kasih pengunjung makam. Sebenarnya cerpen Di Jalan Jabal Al-Kaabah karya M. Shoim Anwar mengisahkan tentang kehidupan masyarakat yang berpikir bahwa seluruh takdir termasuk rezeki merupakan kehendak Tuhan. Memang seluruh rezeki merupakan kehendak Tuhan, namun sebagai manusia kita harus bekerja keras untuk mendapatkan rezeki tersebut dan dengan cara yang halal pula. Berdasarkan pemahaman s...

Mendongkrak Paradigma Feminisme Cerpen Tahi Lalat Karya M. Shoim Anwar

Ketika mencermati sebuah karya sastra, pasti terdapat interpretasi yang muncul dari dalam benak pembacanya. Oleh sebab itu muncul beberapa kritikan mengenai karya sastra. Begitu pula ketika membaca dan menikmati cerpen Tahi Lalat karya M. Shoim Anwar, pembaca memiliki sudut pandang tersendiri dalam memaknai karya tersebut. Sebagai pembaca, saya pun memiliki sudut pandang bahwa cerpen tersebut memiliki makna tentang kecemburuan masyarakat kepada kepala desa yang tidak pernah menepati janjinya. Namun, apabila diulas lebih dalam lagi cerpen Tahi Lalat memiliki maksud tentang dinamika kehidupan yang terjadi di pedesaan. Ya, seorang kepala desa merupakan tokoh utama dalam pemeranan kebijakan di pedesaan. Apapun yang dilakukannya akan menjadi sorotan utama untuk dijadikan santapan bahan pembicaraan.   Sebenarnya cerpen Tahi Lalat karya M. Shoim Anwar mengisahkan tentang gejolak kerisauan masyarakat terhadap pemimpin desanya yang tidak berpegang teguh pada prinsipnya. Apalagi ditambah...

Menguak Sisi Bermasyarakat dalam Cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup Karya M. Shoim Anwar

Tradisi sosial memang selalu menuntut individu untuk melakukan apapun yang ada dalam aturan-aturannya. Begitu pula dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” yang mengisahkan mengenai gambaran kebudayaan dan tradisi sosial di kehidupan bermasyarakat. Gus Usup merupakan pribadi yang disegani masyarakat karena sikapnya yang sopan dan ramah terhadap semua kalangan. Berdasarkan unsur intrinsiknya, penyusunan cerita dikemas sangat renyah sehingga pembaca dapat mudah memahami setiap alur yang dibawakan oleh pengarang. Selain itu, pengarang juga sangat gamblang menggambarkan perwatakan setiap tokoh yang ada di dalam cerita. Hal ini membuat pembaca paham betul dengan setiap tokoh cerita. Selain itu, hal tersebut juga dapat menjadi nilai positif dari cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar.   Secara garis besar, cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar ini memiliki berbagai makna simbolik. Simbol pertama dapat dilihat dari sosok Gus Usu...

Martabat dalam Puisi Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah Karya M. Shoim Anwar

  ULAMA ABIYASA TAK PERNAH MINTA JATAH M. Shoim Anwar   Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia panutan para kawula dari awal kisah ia adalah cagak yang tegak tak pernah silau oleh gebyar dunia tak pernah ngiler oleh umpan penguasa tak pernah ngesot ke istana untuk meminta jatah tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah marwah digenggam hingga ke dada tuturnya indah menyemaikan aroma bunga senyumnya merasuk hingga ke sukma langkahnya menjadi panutan bijaksana kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata Ulama Abiyasa bertitah para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa menjadikannya sebagai pengumpul suara atau didudukkan di kursi untuk dipajang di depan massa diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah agar tampak sebagai barisan ulama Ulama Abiyasa tak membutuhkan itu semua dat...

Menyelami Kekuasaan Politik dalam Puisi Ulama Durna Ngesot ke Istana Karya M. Shoim Anwar

  ULAMA DURNA NGESOT KE ISTANA M. Shoim Anwar   Lihatlah Sebuah panggung di negeri sandiwara Ketika ada Ulama Durna ngesot ke istana Menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah Maka kekuasaan menjadi sangat pongah Memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir seenaknya Agar segala tingkah polah dianggap absah   Lihatlah Ketika Ulama Durna ngesot ke istana Menyerahkan marwah yang dulu diembannya Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana Bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa Menunggang banteng bermata merah Mengacungkan arit sebagai senjata Memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara   Lihatlah Ketika Ulama Durna berdagang mantra berbusa-busa Adakah ia hendak menyulut api baratayuda Para pengikutnya mabuk ke lembah-lembah Tatanan yang dulu dicipta oleh para pemula Porak poranda dijajah tipu daya Oh tahta dunia yang fana Para begundal mengaku dewa-dewa Sambil menuding ke arah kawula Seak...

Gejala Sosial dalam Puisi "Dursasana Peliharaan Istana"

  “DURSASANA PELIHARAAN ISTANA”   M. Shoim Anwar Dursasana adalah durjana peliharaan istana tingkahnya tak mengenal sendi-sendi susila saat masalah menggelayuti tubuh negara    cara terhormat untuk mengurai tak ditemukan jua suara   para kawula melesat-lesat bak anak panah suasana kelam   bisa   meruntuhkan penguasa jalan pintas pun digelindingkan roda-roda gila dursasana   diselundupkan untuk memperkeruh suasana kayak jaka tingkir menyulut kerbau agar menebar amarah atau melempar sarang lebah agar penghuninya tak terima   lalu istana punya alasan menangkapi mereka akal-akalan purba yang telanjang menggurita saat panji-panji negara menjadi slogan semata para ulama   yang bersila di samping raja menjadi penjilat pantat yang paling setia      sambil memamerkan para pengikut yang dicocok hidungnya   Lihatlah   dursasana di depan raja dan pejabat istana lagak polahnya se...